Sandarangga’s Weblog

Penjara yg berupa kerja

February 18, 2008 · 1 Comment

Beberapa bulan pindah kerja dari tempat kerja yg dulunya Part time di sebuah radio internet di Bandung menjadi full time di sebuah vendor telco jawa di Bandung tapi dalam kenyataan harus Bolak-bolak dari Bandung ke Jakarta, serasa banyak hal yg hilang dan terbengkalai, amanah dakwah secara aktif praktis hanya bisa dilakukan pada hari sabtu dan ahad dan mencoba nyari waktu-waktu lain agar mutarobi masih bisa terpenuhi pula hak-haknya

Memang, ada banyak hal yg bisa didapat selain skill yg semakin meningkat juga ada penghasilan yg lumayan pas-pasan untk penghidupan sehari-hari, tapi setelah dipikir-pikir apakah akan sampai tua saya harus begini, berangkat pagi dan pulang malam dari hari senin sampai Jum’at belum kalau saat di Jakarta harus sampai lembur, dan kalaupun pindah ke tempat kerja lain yg kebanyakan di Jakarta, maka rutinitas seperti itu akan tetap saya dapatkan

Saya harus segera keluar dari kungkungan ini, saya ingin bebas memberikan waktu saya untk dakwah, saya ingin pergi ke suatu tempat terpencil di tengah hutan untk menyampaikan keindahan nilai Islam kepada masyarakat secara langsung dan banyak hal tanpa terikat ruang dan waktu

Ya ALLAH, bantulah hambamu ini untuk bisa mencari alternatif penghasilan lain yg bisa flexible waktunya untk dakwah, meskipun dengan penghasilan yg pas-pasan

→ 1 CommentCategories: Uncategorized

ANTARA DATARAN TINGGI DAN IBUKOTA NEGARA

February 18, 2008 · Leave a Comment

Sebuah Tausiyah dari seseorang semoga bisa diambil hikmahnya

Memasuki masa-masa kita sekarang hal yang satu ini merupakan peristiwa sekali seumur hidup.

Saat memang dirasa kesiapan kita sudah mantap..tinggal mengajukan diri.

Lain wilayah lain kebiasaan. Ada nilai yang dulu diawal sama, namun seiring perkembangan dan pertambahan jumlah kader kemudian saat ini tampak berbeda, terutama bagi para pelakunya.Tidak ada pemaksaan, hanya menghindari hal yang tidak diinginkan, agar keputusan yang diambil seobyektif mungkin dan memiliki dampak positif bagi dakwah itu sendiri.

Itu di daerah ‘dataran tiggi

Di Ibukota negara beda lagi ceritanya, “…antum tinggal sebut nama , nanti ana bantu proses selanjutnya.”

Kembali pada pertanyaan yang itu : Dicarikan atau cari sendiri? Atau ada yang mengatakan : Dipilihkan atau pilih sendiri?

Tidak pernah ada kata pemaksaan untuk hal yang satu ini. ” Antum harus sama yang ini, kalau tidak … !!!” Tidak , tidak.. tidak pernah ada kata terucap seperti itu. Semuanya dapat di musyawarahkan, dapat dibicarakan. Keputusan terakhir tetap ada di tangan pelaksana (yang akan menjalaninya).

Sebab prosesi ini adalah prosesi sekali seumur hidup, kecuali yang merencanakan lain.. tapi ia salah satu keputusan terbesar dalam hidup. Karena orang yang akan menjadi pendamping kita, akan senantiasa bersama dalam setiap saat, susah, sedih, senang, bahagia, sakit, sehat, duka, tawa, canda, dan tentu saja, sebagai kader dakwah tentu tidak terlepas dari kebersamaan dalam jamaah dakwah itu sendiri. Jika ternyata pilihan jatuh pada yang berbeda fikroh dan jamaah, sepertinya bukan disini pembahasannnya, dan sepertinya kita semua sudah mafhum berdasar contoh-contoh yang pernah ada dilingkungan sekitar.

Sebelum membahas pertanyaan diatas, ada baiknya ditelaah sedikit mendalam tentang latar belakang kebiasaan yang berbeda di dua tempat tersebut.

Dataran tinggi.

Budaya dicarikan / dipilihkan oleh murobbi masih begitu kental, terlebih di kabupaten Bandung. Dulu sepertinya hal ini juga adalah prosedur standar jamaah di manapun ,termasuk ibukota , karena jumlah kader yang masih terbatas, terlebih situasi politik yang belum mendukung iklim berharokah.

Ada yang berpendapat, metoda seperti ini dapat memadukan potensi yang ada di kedua belah pihak yang mana yang paling mengetahui potensi itu tentu adalah sang pembina masing-masing kader.

Masalah penjagaan hati saat mengambil keputusan agar tidak mengedepankan nafsu belaka juga bisa dijadikan alasan.

Tidak menimbulkan fitnah di komunitas dakwah, karena biasanya jika pilihan sendiri, calonnya adalah teman yang pernah satu kegiatan dikampus. Entah satu kepengurusan ,satu kepanitiaan atau sering rapat bersama. Jika begini maka rekan yang lain akan dengan mudah menebak ‘proses’ terjadinya hubungan mereka : “oh , pantes.. dulu sering-sering rapat.. ternyata itu toh maksudnya.. ” , “oh iya.. dulu sering saling kirim bingkisan waktu abis mudik dari kampung halaman..”, dan berbagai celetukan yang mungkin ada benarnya, mungkin juga hanya prasangka.

Yang jelas sebagian yang memilih metoda ini berpendapat, mereka dapat merasakan apa yang dirasakan oleh para masyaikh generasi awal dakwah ini di permulaan era ‘80-an.

Ibukota negara.

Budaya cari sendiri adalah hal yang biasa dipilih. Selain karena kadernya banyak, metoda ini juga memangkas waktu pencarian. Tinggal sebut nama, nanti proses selanjutnya akan dibantu oleh murabbi / pembina. Walaupun beberapa orang akan senantiasa bertanya-tanya, “kok bisa sama dia?”. Untuk menjawabnya, biasanya yang ditanya sudah punya jawaban pamungkas : “sudah jodoh dari sananya sih..”

Ustadz Hidayat dalam salah satu taujihnya konon pernah berkata, bahwa adalah sesuatu yang wajar, apabila kita melihat wanita yang menarik hati kita (cantik ,dlsb) kemudian kita meminangnya untuk dinikahi. Sehingga tidak perlu terlalu membesar-besarkan masalah ini. Mau jelas bagaimana prosesnya? Tinggal tabayyun ke empunya acara & juga ke Pembinanya secara langsung.

“Hal ini sangat manusiawi” , tapi mungkin tidak ‘ikhwah-wi’.. itu salah satu pendapat seorang ikhwah yang pro-’dataran tinggi’

Yang pasti, Yang terbaik dari keduanya adalah yang niatnya ikhlas, pure Lillahi Ta’ala, serta tidak melanggar syariat, dari sebelum, saat proses, dan setelahnya.

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

HATI-HATI DENGAN KEJAHILIYAHAN MASA LALU

February 18, 2008 · Leave a Comment

Bani Israil yg secara mental sudah terbina selama puluhan tahun tidak hanya dengan tarbiyah ilmiyyah bersama Musa tetapi juga teruji di lapangan mampu menghadapi segala bentuk teror yg dilancarkan Fir’aun dan melihat berbagai macam pertolongan dan janji ALLAH secara langsung,sebagian mereka ternyata takluk dengan nostalgia jahiliyah.Ketika melihat masyarakat sedang melakukan ritual jahiliyah mereka terkenang kembali dengan masa lalunya dan mengungkapkan keinginan mereka untuk kembali melakukan ritual itu Kisah diatas memberikan pelajaran pada kita bahwa nilai-nilai jahiliyah kita dulu yang mungkin masih mengendap dalam diri klita sewaktu-waktu bisa aktif kembali dan membuat kita rindu kembali kepadanya,Mungkin kita yg dulu sudah lama meninggalkan musik dan lagu2 yg mengumbar dosa disaat keseringan mendengar ingin untuk melafalkannya lagi,orang yg sudah lama meninggalkan dunia pacaran dan Hiburan tidak jelas dan segala bentuk kesia-siaan dan dia berkumpul lagi dengan komunitas seperti maka tidak menutup kemungkinan dia akan kembali
Untuk saudara-saudaraku yg sedang Kerja ke luar kota atau dalam proses transfer sehingga harus libur aktivitas pekanannya selalulah perkuat tarbiyah dzatiyah pada diri kita dan carilah komunitas yg bisa saling menjaga dan mengingatkan kita dalam kebaikan

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Hello world!

February 14, 2008 · 1 Comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

→ 1 CommentCategories: Uncategorized